Arts & Cultures



Alat Musik Ghazal

Musik ghazal merupakan salah satu jenis musik tradisional yang berkembang di tanah Melayu, salah satunya di Kepulauan Riau.Ghazal memadukan keindahan musik dan kedalaman makna syair.

Asal-usul
Ghazal merupakan salah satu jenis musik yang berkembang di Kepulauan Riau. Salah satu wilayah yang menjadi tempat berkembangnya permainan musik ini adalah Pulau Penyengat yang merupakan salah satu dari gugusan pulau-pulau di Kepulauan Riau. Pulau Penyengat terletak di sebelah Pulau Bintan (Asri, 2008: 13).
Mayoritas masyarakat Pulau Penyengat beragama Islam dan inilah yang menjadi alasan mengapa kesenian yang berkembang di pulau ini kental dengan kebudayaan Islam. Salah satu jenis kesenian yang bercorak Islam itu adalah musik ghazal. Islam yang dibawa oleh kaum saudagar Arab dan persia mulai masuk ke wilayah Kepulauan Riau sejak abad ke-18. Selain bermaksud untuk berniaga, kaum pedagang asing itu ersebut juga membawa agama, kebudayaan, dan berbagai macam kesenian.

>Musik ghazal merupakan hasil perpaduan antara kebudayaan yang dibawa oleh pendatang dengan kebudayaan setempat. Perpaduan konsep musik ghazal dengan budaya dan tradisi setempat ini memunculkan bentuk budaya baru. Salah satu kekhasan musik ghazal masyarakat Melayu dibanding bentuk musik ghazal aslinya adalah adanya syair-syair Melayu dalam permainan musik tersebut.

Di daerah asalnya, Persia dan kawasan Arab lainnya, ghazal merupakan bentuk puisi berima yang setiap barisnya memiliki bentuk yang sama. Puisi ini merupakan bentuk ekspresi rasa sakit karena kehilangan atau perpisahan. Ghazal juga merupakan bentuk ekspresi rasa cinta meski di dalamnya terdapat rasa sakit yang diderita itu. Penyair mistik Persia, Jalaludin Rumi, adalah orang pertama yang menulis jenis syair ini pada abad ke-13.

Kiprah Rumi dilanjutkan oleh Hafez selang satu abad kemudian. Selanjutnya menyusul penyair Fuzuli Azeri pada abad ke-16, serta Mirza Ghalib (1797-869) dan Muhammad Iqbal (1877-1938). Dua orang ini menulis ghazal dalam bahasa Persia dan Urdu. Kesenian ghazal mulai menyebar ke Asia Selatan sejak abad ke-12. Saat kini, bentuk kesenian ini telah berkembang di berbagai daerah dan bentuk puisinya ditemukan dalam berbagai bahasa.

Masuknya musik ghazal di Kepulauan Riau tidak lepas dari peran seorang tokoh bernama Lomak. Awalnya, Lomak menyebarkan ghazal di daerah Johor, Malaysia. Lambat-laun, ghazal berkembang ke berbagai daerah di sekitarnya, termasuk Pulau Penyengat. Masyarakat Melayu menggunakan musik ghazal sebagai sarana dakwah Islam melalui pelantunanRubaiyat Oemar Khayam. Namun, sebelum musik ini berkembang, yang pertama kali dilakukan oleh Lomak adalah mengembangkan musik ghazal agar diterima oleh masyarakat Melayu. Musik ghazal yang mulanya kental dengan budaya Arab kemudian ?dimelayukan? dengan variasi alat musik dan syairnya.

Di Pulau Penyengat, permainan musik ghazal mendapat sambutan positif. Ini terbukti dengan pemberian ruang kepada musik ini untuk berkembang. Sambutan itu muncul bukan hanya dari kalangan masyarakat, namun juga pemerintah daerah. Suasana yang kondusif itulah yang mendorong kemunculan berbagai kelompok musik ghazal di Pulau Penyengat.

Hingga saat ini, permainan musik Melayu ghazal terus berkembang. Para pemain tidak saja semakin piawai dalam memainkan peralatan musiknya, mereka pun melakukan berbagai inovasi dengan menambah jumlah lagi dalam musik tersebut. Musik Melayu ghazal terus dimainkan dalam berbagai kesempatan dan menjadi hiburan dalam berbagai upacara adat atau ketika menyambut tamu kehormatan.

Pakaian Tradisional - Baju Kurung

The baju kurung is a traditional Malay costume which loosely translated as "enclosed dress". This type of costume is the national dress of Brunei andMalaysia. In Indonesia, it is one of the many regional dresses of this culturally and ethnically diverse country (especially on the island of Sumatra - where many ethnic Malays and Minangkabau women wear this). It can also be found in Singapore and Thailand.

History

Malay women wearing Baju Kurung in Malaya, circa 1950.

The early baju kurung was longer and looser, unsuited to the figure of Malay women. It was popularised in the late 19th century by Sultan Abu Bakar of Johor.It has been reported that the baju kurung has "not only survived, but prospered" in modern Malaysia, pointing to its popularity during the Islamisation of Malaysia in the 1970s and 1980s.

Features

Although baju kurung is the name for the attire for both male and female, in Malaysia, the female dress is referred to as baju kurung, while the male dress is referred to as baju melayu.

Two versions of the costumes are popular. One is the baju kurung teluk belanga and the other is the baju kurung cekak musang. The main difference between this two fashion styles is the cutting style at the neck, where the teluk belanga style has no collar and the neckline is stitched in the style known as tulang belut ("eel's spines or bones"). The baju kurung teluk belanga originated, as its name implies, from Teluk Belanga, in the island of Singapore, which was previously the capital of the state of Johor. On the other hand the cekak musang style has a standing collar with holes for five buttons including two buttons for the collar.

Baju kurung for men

The cekak musang shirt also normally has three pockets – two at the bottom, and one at the upper left breast. The teluk belanga shirt normally has only two pockets both at the bottom. The baju melayu is a loosely fitting shirt with long sleeves, worn with long pants with a sampin which is wrapped around the middle of the body from the stomach to the knee and sometimes lower. This sampin is usually a three-quarter length or full sarong-style cloth made of kain songket, tenun pahang diraja or other woven materials with traditional patterns.

Baju kurung for women

A baju kurung is a loose-fitting full length dress, consisting of a skirt and a blouse. The skirt is made from a long cloth with foldings on one side; the blouse is collarless, has long sleeves, and extends to between the hips and knees. It is sometimes made of silk, imported from Japan, South Korea, Turkey or India, or from the Malaysian states of Terengganu or Kelantan. The modern baju kurung commonly uses lively colours and geometric patterns.

Traditionalists prefer fabric from peninsular Malaysia's eastern states of Terengganu and Kelantan, where the culture of batik and other hand-designed fabrics is still strong.

A woman will often wear a baju kurung with a headscarf (a tudung) in the more conservative states in northern Malaysia.

Cultural significance

The baju kurung is also worn by female non-Muslims (including Malaysia's ethnic Chinese and Indian minorities). This can be partially due to the baju kurung being one of the approved dressing for female civil servants and one of the approved style uniforms for female school students. However, its peak sales occur in the month of Ramadan on the Muslim calendar.

Rumah Adat - Rumah Belah Bubung

Rumah Belah Bubung adalah rumah adat dari kepulauan Riau yang berada di Indonesia. Rumah Belah Bubung juga dikenal dengan nama rumah rabung atau rumah bubung melayu. Konon, nama rumah ini diberikan oleh orang-orang asing yang datang ke Indonesia seperti Cina dan Belanda. Rumah Belah Bubung memiliki model rumah yang sama dengan rumah panggung. Rumah ini memiliki tinggi 2 meter dari tanah dan ditopang oleh beberapa tiang penyangga. Rumah ini memiliki atap yang berbentuk seperti pelana kuda. Rumah induk terbagi menjadi 4 bagian yaitu selasar, ruang induk, ruang penghubung dapur, dan dapur. Rumah Belah Bubung memiliki bahan dasar yaitu kayu. Proses pembangunan rumah pun tidak sembarangan karena harus melalui beberapa tahap yang dipercaya menghindari pemilik rumah dari kesialan. Ukuran rumah ini juga bergantung dari kemampuan ekonomi dari sang pemilik rumah. Semakin besar ukuran rumah ini memperlihatkan bahwa kemampuan ekonomi dari pemilik rumah adalah menengah ke atas, tetapi semakin kecil rumah ini menunjukkan bahwa ekonomi pemilik rumah menengah ke bawah. 

Rumah Belah Bubung (disebut juga Rabung atau Bumbung Melayu)

Rumah Belah Bubung dibagi lagi menjadi beberapa jenis menurut bentuk atapnya, yaitu :

  • Rumah Lipat Pandan (atapnya curam)
  • Rumah Lipat Kajang (atapnya agak mendatar)
  • Rumah Atap Layar (disebut juga Ampar Labu, bagian bawah atap ditambah dengan atap lain)
  • Rumah Perabung Panjang (perabung atapnya sejajar dengan jalan raya)
  • Rumah Perabung Melintang (perabung atapnya tidak sejajar dengan jalan)

Rumah Adat - Rumah Limas Potong

Besar kecilnya rumah yang dibangun ditentukan oleh kemampuan pemiliknya, semakin kaya seseorang semakin besar rumahnya dan semakin banyak ragam hiasnya. Namun demikian,kekayaan bukan sebagai penentu yang mutlak. Pertimbangan yang paling utama dalam membuat rumah adalah keserasian dengan pemiliknya. Untuk menentukan serasi atau tidaknya sebuah rumah, sang pemilik menghitung ukuran rumahnya dengan hitungan hasta, dari satu sampai lima. Adapun urutannya adalah:

  • Ular berenang
  • Meniti riak
  • Riak meniti kumbang berteduh
  • Habis utang berganti utang
  • Hutang lima belum berimbuh

Ukuran yang paling baik adalah jika tepat pada hitungan riak meniti kumbang berteduh.

Tari Marwah Gonggong Tanjungpinang

Memperkenalkan kepada anda tarian tradisional dari Kepulauan Riau ,Tanjung Pinang, yakni Tari Melemang. Tanjung Pinang merupakan ibukota propinsi Kepulauan Riau yang terletak di pulau Bintan. Secara geografis, Tanjung Pinang berbatasan dengan kecamatan Bintan Utara di sebelah Utara, kecamatan Bintan Timur di sebelah Selatan, kecamatan Bintan Timur di sebelah Timur, serta kecamatan Galang kota Batam di sebelah Barat. Untuk menuju Tanjungpinang dari Jakarta, anda dapat berangkat menggunakan pesawat terbang dari Bandara Internasional Soekarno Hatta dan tiba di Bandara Raja Haji Fisabilillah. Dari Bandara Raja Haji Fisabilillah, anda dapat menuju pusat kota Tanjungpinang menggunakan angkutan umum berupa taxi. Pada bulan Juli dan Agustus setiap tahunnya di Tanjung Pinang, anda dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Melemang pada saat acara Gawai Seni Kota Tanjungpinang.

Menurut sejarahnya, tari Melemang merupakan tarian tradisional yang berasal dari Tanjungpisau Negeri Bentan Penaga, kecamatan Bintan. Tari Melemang dimainkan kali pertama sekitar abad ke-12. Ketika itu, tari Melemang hanya dimainkan di istana Kerajaan Melayu Bentan yang pusatnya berada di Bukit Batu, Bintan. Tarian ini hanya dipersembahkan bagi Raja ketika sang Raja sedang beristirahat. Karena merupakan tarian istana, tari Melemang ditarikan oleh para dayang kerajaan Bentan. Namun sejak Kerajaan Bentan mengalami keruntuhan, tari Melemang berubah menjadi pertunjukan hiburan rakyat.

Dalam sebuah pertunjukan, tari Melemang dimainkan oleh 14 orang, diantaranya seorang pemain berperan sebagai Raja, seorang berperan sebagai permaisuri, seorang berperan sebagai puteri, empat orang sebagai pemusik, seorang sebagai penyanyi, serta enam orang sebagai penari. Para pemain Melemang mengenakan kostum dan tata rias bergaya Melayu namun sesuai dengan perannya. Biasanya, pemain wanita pada pertunjukan tari Melemang mengenakan baju kurung panjang sebagai atasan dan kain atau sarung panjang sebagai bawahan. Sementara pemain lelaki mengenakan baju kurung panjang sebagai atasan dan celana panjang sebagai bawahan. Sebagai pelengkap kostum, pemain lelaki juga mengenakan topi atau kopiah berwarna hitam.

Nyanyian berbahasa Melayu yang mengisahkan kehidupan seorang raja di sebuah kerajaan menjadi ciri khas dari pertunjukan tari Melemang. Nyanyian itu menjadi pengiring dari seluruh rangkaian gerak yang ditarikan para penari Melemang. Dengan diiringi alunan musik akordion, gong, biola, serta tambur, perpaduan tari dan nyanyian ini berlangsung sekitar 1 jam. Yang menjadi daya tarik khusus dari pertunjukan tari Melemang yakni gerakannya. Dengan posisi berdiri sambil membongkokkan badan ke belakang, penari berusaha mengambil sapu tangan yang diletakkan di permukaan lantai. Melalui kepiawaian dan keterampilan yang tidak semua orang dapat melakukannya, dengan sempurna penari Melemang mampu mengambil sapu tangan itu.

Tari Zapin

Tari zapin dikembangkan berdasarkan unsur sosial masyarakat dengan ungkapan ekspresi dan wajah batiniahnya. Tarian ini lahir di lingkungan masyarakat Melayu Riau yang sarat dengan berbagai tata nilai. Tarian indah dengan kekayaan ragam gerak ini awalnya lahir dari bentuk permainan menggunakan kaki yang dimainkan laki-laki bangsa Arab dan Persia. Dalam bahasa Arab, zapin disebut sebagai al raqh wal zafn. Tari Zapin berkembang di Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab dari Hadramaut.


Tari zapin tertua di Indonesia tercatat ada di Flores, Nusa Tenggara Timur, Ternate dan Ambon, serta rupanya juga berkembang di Pontianak, Kalimantan dengan sebutan Japin. Di Indonesia bagian Barat, tari zapin awalnya dikenal di Jambi baru kemudian tumbuh di Riau dan kepulauan sekitarnya. Di Riau tari zapin awalnya hanya dilakukan penari lelaki dapat mengangkat status sosialnya di masyarakat. Saat itu penarinya akan menjadi incaran para orang tua untuk dijodohkan kepada anak perempuannya.


Zapin mempertontonkan gerak kaki cepat mengikuti hentakan pukulan pada gendang kecil yang disebut marwas. Harmoni ritmik instrumennya semakin merdu dengan alat musik petik gambus. Karena mendapat pengaruh dari Arab, tarian ini memang terasa bersifat edukatif tanpa menghilangkan sisi hiburan. Ada sisipan pesan agama dalam syair lagunya. Biasanya dalam tariannya dikisahkan keseharian hidup masyarakat melayu seperti gerak meniti batang, pinang kotai, pusar belanak dan lainnya. Anda akan melihat gerak pembuka tariannya berupa gerak membentuk huruf alif (huruf bahasa Arab) yang melambangkan keagungan Tuhan.


Awalnya tari zapin hanya ditarikan penari lelaki tetapi namun penari perempuan juga ditampilkan. Kadang juga tampil penari campuran laki-laki dengan perempuan. Dahulu tari zapin ditarikan di atas tikar madani dan tikar tersebut tidak boleh bergoyang atau bergeser sedikitpun sewaktu menarikan tari zapin tersebut.

 

Gerak dan ritme tari zapin merupakan media utama untuk mengungkapkan ekspresi penarinya. Darinya Anda dapat meresapi pengalaman kehidupan, peristiwa sejarah, dan keadaan alam yang menjadi sumber gerak dalam tari zapin.

 

Kostum dan tata rias para penari zapin lelaki mengenakan baju kurung cekak musang dan seluar, songket, plekat, kopiah, dan bros. Sementara untuk penari perempuan berupa baju kurung labuh, kain songket, kain samping, selendang tudung manto, anting-anting, kembang goyang, kalung, serta riasan sanggul lipat pandan dan conget.

Sumber : http://www.indonesia.travel